LAPORAN
PENDAHULUAN PRAKTIK MANDIRI TERSETRUKTUR PENDAMPING(PMTP)
AKADEMI
KEBIDANAN BAKTI UTAMA PATI
TAHUN
AKADEMI 2015/2016
Nama
Mahasiswa : Lintang Kirna Firma I
NIM : 1014025
Mata
Kuliah : Kegawatdaruratan
maternal dan neonatal
Jenis
Kompetensi : Kegawatdaruratan
Maternal
Perasat
: Resusitasi
Semester/Kelompok
: IV/III
A.
Latar Belakang
Resusitasi adalah segala usaha untuk mengembalikan
fungsi sistem pernafasan, peredaran darah dan otak yang berhenti atau terganggu
sedemikian rupa agar kembali normal seperti semula. (FKUI, 2002, hal. 998).
Resusitasi bayi baru lahir harus mengikuti pendekatan yang sistematis.
Resusitasi ini dilakukan dalam dua tahap yaitu resusitasi dasar dan resusitasi
lanjutan. Resusitasi dasar dilakukan dan diteruskan dengan resusitasi lanjutan
hanya apabila bayi tidak membaik.
Tindakan ini merupakan tindakan kritis yang dilakukan
pada saat terjadi kegawatdaruratan terutama pada sistem pernafasan dan sistem
kardiovaskuler. kegawatdaruratan pada kedua sistem tubuh ini dapat menimbulkan
kematian dalam waktu yang singkat (sekitar 4 – 6 menit).
Dilakukanya resusitasi yaitu karena terjadinya
oksigenasi yang tidak efektif dan perfusi yang tidak adekuat pada neonatus
dapat berlangsung sejak saat sebelum persalinan hingga masa persalinan.
Gejala umum yang terjadi pada bayi baru lahir yang
memerlukan tindakan resusitasi adalah bayi yang baru lahir namun tidak mampu
untuk menghirup oksigen dengan adekuat dengan tanda dan gejala : Bayi tidak
bernapas atau napas megap-megap, denyut jantung kurang dari 100 x/menit, kulit
sianosis, pucat, tonus otot menurun, tidak ada respon terhadap refleks
rangsangan.Resusitasi lebih penting diperlukan pada menit-menit pertama
kehidupan. Jika terlambat, bisa berpengaruh buruk bagi kualitas hidup individu selanjutnya.
Dampak yang akan terjadi apabila tidak dilakukan
resusitasi pada bayi baru lahir yaitu dapat menyebabkan beberapa masalah
seperti bayi akan mengalami kekurangan aksigen di dalam tubuhnya yang mana
kondisi ini akan mengakibatkan kerusakan pada sistem saraf serta kerusakan pada
otak dan alat-alat vital lainnya sebagai akibat dari tidak adanya transportasi
oksigen dari paru-paru ke organ0organ tersebut yang mana jika bayi tetap berada
dalam kondisi ini maka bayi akan mengalami kematian. Oleh sebab itulah
diperlukan adanya tindakan resusitasi untuk meminimalisir resiko yang terjadi serta
untuk tetap mempertahankan kelangsungan hidup bayi.
B.
Tujuan
1. Memulihkan
fungsi pernafasan bayi baru lahir yang mengalami asfiksia
2. Mempertahankan
jalan nafas yang bersih
3. Membantu
pernafasan membantu sirkulasi/ memulai kembali sirkulasi spontan
4. Memberikan
ventilasi yang adekuat
5. Membatasi
kerusakan serebi
6. Pemberian
oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen kepada otak,
jantung dan alat – alat vital lainnya
C.
Indikasi
1. Bayi tidak menangis kuat atau
menangis tapi hanya merintih
2. Gerakan bayi lunglai
3. Warna kulit bayi kebiruan
4. Denyut jantung bayi ≤ 100x/mnt
5. Terjadi sumbatan jalan nafas pada
bayi akibat lender atau mekonium
6. Terdapat kerusakan neurologi (sitem
syaraf) pada bayi
D.
Kontraindikasi
Tidak di lakukan pada bayi yang dapat bernafas dengan normal
E.
Persiapan Alat & Bahan
APD
( Clemek, Topi, kacamata, Masker dan Alas kaki )
Handuk
besar 2 buah
Kain
bersih 1 buah (untuk pengganjal
Lampu
sorot
Penghisap
lendir ( de lee)
Sungkup
Sarung
tangan steril
Adrenalin
0,01 – 0.03 mg/kg
Larutan
klorin 0,5 %
Oksigen
Jam tangan
Kassa steril
Bak instrumen
Baki dan pengalas serta penutup
korentang
F.
Prosedur pelaksanaan
1. Menyambut dengan sopan dan ramah
serta memposisikan klien
2. Memperkenalkan diri kepada klien
3. Merespon terhadap reaksi klien
4. Percaya diri
5. Teruji memberikan rasa empati pada
klien
6. Menggunakan APD
(celemek,topi,masker,alas kaki ,sarung tangan)
7. Mencuci tangan 7 langkah
8. memakai sarung tangan
I.
LANGKAH
AWAL RESUSITASI
9. meletakkan bayi di bawah radiant
warmer ( lampu penghangat )
10. mengeringkan tubuh bayi dengan kain
bersih dan kering
11. memposisikan bayi dengan kepala ekstensi ke
belakang dengan cara mengganjal bahu atas bayi setinggi 2-3 cm
12. membersihkan jalan nafas bayi dengan cara
menghisap lendir dari mulut kemudian hidung menggunakan penghisap lendir de lee
13. memberikan rangsangan taktil dengan menepuk
telapak kaki atau menggosok punggung bayi
14. melakukan penilaian terhadap keadaan
bayi ( pernafasan, denyut jantung, dan warnakulit)
II.
VENTILASI
TEKANAN POSITIF ( VTP ) apabila denyut jantung bayi < 100x/menit maka
lakukan ventilasi tekanan positif
15. mengecek kembali posisi bayi
16. memilih sungkup yang tepat dan
menempatkan sungkup pada muka bayi, sehingga menutupi dagu, mulut dan hidung
17. Memastikan sungkup menutup secara
rapat sehingga tidak ada udara keluar
18. memeras kantong hanya menggunakan
jari – jari dengan tekanan yang tidak terlalu kuat ( bayi cukup bulan : 30-40
CmH2O, bayi kurang bulan : 20 – 25 CmH2O )
19. Mengecek perlekatan sungkup pada
wajah. (jika dada mengembang berarti posisi sungkup sudah benar dan jika dada
tidak mengembang) mengatur kembali posisi kepala dan sungkup, lalu mencoba lagi
dengan tekanan yang sedikit lebih besar)
20. Melakukan ventilasi selama 30 detik
21. Menilai kembali keadaan bayi (denyut
jantung, menangis dan warna kulit, respirasi )
22. Alat-alat dibersihkan di rendam dalam
larutan klorin 0,5%
23. Mencuci tangan kedalam larutan klorin
dan melepas sarung tangan secara terbalik
24. Mencuci tangan 7 langkah
G.
Kesimpulan, saran & Advice
H.
Daftar Pustaka
Mochtar, Rustam.1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta:ECG
Saifuddin,Abdul Bari,dkk.2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta : PT Bina Sarwono Prawiroharjo
Pati, .......................................
Dosen Pendamping Praktikan
(........................................) (Lintang Kirna F.I.)